Unggulan

Aroma Karsa


Melihat buku Aroma Karsa (2018) karya Dewi Lestari begitu intimidatif. Bukunya tebal, membutuhkan komitmen untuk membacanya dan tentu uang yang cukup banyak untuk membelinya. Hehe. Apalagi Dee, panggilan akrab penulis, terkenal menulis dengan buku-buku yang bikin mikir seperti seri Supernova.

Sebelum bahas Aroma Karsa, saya mau cerita kalau Dee adalah penulis pertama yang menginpirasi saya menulis fiksi. Gaya menulisnya saya tiru plek-plekan. Kadang beberapa kalimatnya dicatat supaya bisa dimasukkan ke dalam tulisan saya. Buku Filosofi Kopi (2006) menginsipirasi saya membuat blog. Namanya? Filosofi Kabut. Hahaha.

Jadi, Dee ini adalah penulis yang berjasa sekali buat saya. Saya juga sangat suka buku Rectoverso (2008), bahkan kagum bagaimana seorang penulis seolah-olah bisa mewakili hati pembacanya. Dari semua seri Supernova, Petir (2004) adalah buku yang bisa membuat saya hanyut, ketawa, dan ingat ceritanya hingga sekarang!

Ambisi seorang Raras Prayagung 

Aroma Karsa bercerita tentang Raras Prayagung yang terobsesi mencari Puspa Karsa, tanaman yang ditulis di sebuah lontar kuno. Konon, bunga ini mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma. Obsesi ini mempertemukannya dengan Jati Wesi.

Jati memiliki penciuman luar biasa hingga dijuluki si Hidung Tikus. Ia tumbuh di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar. Demi menyambung hidup, banyak pekerjaan yang dilakukannya, salah satunya meracik parfum.

Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Jati masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Bertemulah Jati dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras, yang memiliki kemampuan serupa dengannya.

Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia temukan, tentang dirinya dan masa lalu yang tak pernah ia tahu.

Novel yang membuka dunia aroma

Sesuai judul novelnya, Dee bercerita tentang banyak aroma, seperti aroma mayat bayi yang ada di tumpukan sampah, aroma seorang pembalap yang bisa ditebak hanya dari jaketnya, dan aroma parfum yang bisa bikin orang tahu bahwa pembuatnya sedang jatuh cinta.

Meski bukunya tebal, ternyata hanya perlu dua hari untuk bisa menghabiskannya. Dee memang lihai dalam merangkai cerita dan membuat orang terus penasaran. Meski banyak hal yang asing, tetapi buku ini tidak terkesan menceramahi dan memusingkan. Ia bercerita dengan cara yang sederhana sehingga mudah dibaca.

Selain itu, Dee juga berhasil membuat kita jadi bertanya-tanya "bunga seperti ini ada enggak sih di Gunung Lawu?". Saat membaca buku ini, saya jadi ingat dengan rasa penasaran saya dengan kopi tiwus di buku Filosofi Kopi (yang pada akhirnya tahu bahwa itu ternyata kopi fiksi). 

Bagus, tetapi ada kekecewaan (spoiler alert)

Saya begitu menggebu-gebu ketika membaca buku ini di awal. Namun, minat mulai berkurang saat bagian Jati ketemu Suma, saya bakal menduga ini pasti akan jatuh cinta. Dan benar saja, Jati tiba-tiba menulis surat pada Suma dengan kata-kata puitis dan ingin bikin parfum dengan aroma tubuhnya segala. Menurut saya, romansa ini bikin cerita cheesy. Sebaiknya biarkan kedua tokoh tersebut kuat dan mandiri apa adanya. 

Adegan yang paling mengecewakan adalah saat Jati pulang dari gunung, abis menemukan sesuatu yang menjawab seluruh misterinya, eh dia pulang ke villa lalu ena-ena sama si Suma. Arghhh. Atau adegan Arya, pacarnya Suma, yang merelakan wanita tersebut dengan mudahnya.

Apalagi romansa-romansa ini mengambil porsi cerita yang cukup banyak. Jadinya, cerita proses saat masuk hutan untuk menuju desa gaib dan Puspa Karsanya terasa cepat. Udah gitu, klimaksnya malah berantem dengan si tanaman itu, bukannya sama Raras yang justru dia adalah penyebab semuanya. Dan udah gitu, nasib Raras yang punya karakter kuat malah antiklimaks. Jati pun tidak ada closure yang dramatis dengan sosok yang dianggap sebagai ayahnya.

Aduh, maaf kepada penggemar Aroma Karsa, dan sungkem juga pada Dee.. saya sebagai remah peyek ini kok sok tahu ya, tapi kira-kira ini yang saya rasakan. Saya memang kurang suka dengan adegan romantis, seperti saya juga kurang suka Perahu Kertas.

Sayang sekali saya tidak bisa hanyut membaca Aroma Karsa, padahal saya sudah siap untuk itu. Di tengah jalan, banyak sekali pikiran "kok gini?" atau "kok gitu?". Berbeda dengan saya, banyak teman saya yang sangat suka dengan Aroma Karsa. Jadi, memang ini persoalan selera.

Bagaimana pun saya tetap kagum dengan Dee dengan kemampuan menulisnya. Untuk bisa mengawinkan banyak data, diperlukan seorang penulis yang pintar. Dee juga sudah tidak diragukan sebagai salah satu penulis terbaik di Indonesia. Mungkin selanjutnya saya akan membaca novel lamanya yaitu Intelegensia Embun Pagi. Ada yang sudah pernah baca?

Komentar

Postingan Populer