Langsung ke konten utama

Unggulan

Bukan Perawan Maria

  Membaca Bukan Perawan Maria karya Feby Indirani memang tidak sekaget saat saya membaca buku keduanya, Memburu Muhammad , waktu pertama kali. Tema kedua buku ini sama yaitu Islamisme magis. Feby selalu membuat cerita yang berakar dari tradisi, mitologi, keseharian hidup berislam yang lekat dalam hal-hal gaib dalam dunia kaum pemercaya.  Ada cerita-cerita yang cukup menohok, misalnya "Baby Ingin Masuk Islam". Karya ini bercerita tentang seekor babi bernama Baby yang menyatakan keinginannya menjadi muslim. Seorang kiai bernama Fikri menyatakan ini pada umat dan ditanggapi dengan shock. Ia terus memperjuangkan agar Baby bisa jadi muslim. Lucunya, ketika Baby akan diislamnkan, seorang umat ingin ikut kiai agar bisa menyicipi dagingnya. Atau cerpen "Tanda Bekas Sujud" yang bercerita tentang orang-orang terobsesi memiliki tanda hitam di dahinya pertanda srajin salat, perempuan yang kehilangan dirinya agar bisa memenuhi standar istri saleh di cerpen "Perempuan yang K

Kalathida

Seno Gumira Ajidarma adalah sastrawan yang saya hargai karya-karyanya. Ia sering berkisah tentang fenomena politik di masyarakat, karena latar belakangnya sebagai wartawan. Misal, buku Saksi Mata yang bercerita tentang Insiden Dili. Buku Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi bercerita tentang pelarangan berpendapat di masa pemerintahan kala itu.

Mengenai Kalathida

Kalathida (2007) memiliki arti "zaman gila". Setelah membaca bukunya, saya jadi mengerti kenapa penamaan dan sampul bukunya seperti itu. Buku ini bercerita tentang sosok "aku" di tengah kekejaman militer terhadap PKI saat itu, yaitu bagaimana orang-orang yang dituduh PKI ini dibantai dengan kejam. Rumah mereka dibakar, penghuninya dihujam kapak. Benar-benar zaman gila.


Buku dibuka oleh "aku", seorang anak yang tinggal di hutan bambu yang penuh kabut. Di hutan itu, ia sering mendengar sosok anak perempuan yang memanggil-manggil di balik kabut, mendengar tentang "percidukan" yang ia tidak mengerti maksudnya, menyaksikan bagaimana tetangganya dibantai, bagaimana teman-teman sekolahnya menuduh dia anak PKI karena memiliki perangko Soviet, dan lainnya.

Buku diceritakan dengan narasi yang sangat panjang. Kata "kabut" terus menerus diulang. Ini sepertinya memang gayanya Seno, ya? Pengulangan ini juga saya temukan di cerpen Seno berjudul Sepatu Kulit Ular Warna Merah atau di novel Sepotong Senja Untuk Pacarku. Sejujurnya saya kurang suka dengan gaya ini karena terkesan membosankan, tetapi mungkin ini berarti ada penekanan atau ada pesan yang mau sampaikan. 

Membaca buku yang naratif dan minim dialog (apalagi "aku" seperti monolog) ini ibarat menonton film-film Oscar atau film-film festival. Penggambaran visual sangat cantik tapi plotnya sangat lambat, membuat saya kesulitan untuk menikmatinya. Akhirnya saya membaca skimming saja, tidak senikmat baca buku Seno lainnya seperti Matinya Seorang Penari Telanjang

Mari kita bedah bukunya

Buku ini dikritisi oleh Melani Budianta dan Hilmar Farid. Kedua tulisan mereka yang bisa dibaca di bagian akhir buku ini sangat menjelaskan maksud dari buku Kaladhita.

Menurut Melani, kabut adalah metafora bahwa sosok "aku" melihat hal trauma sebagai hutan yang penuh kabut, ranah gelap yang penuh misteri, dengan suara-suara korban dari masa lalu yang memanggil-manggil hati nurani kita.  Kecenderungan kita melupakan masa lalu ibarat buldoser yang menggusur hutan. Hutan jadi berganti dengan mal-mal, yang merupakan metafora kecenderungan manusia larut pada materialisme. 

Hilmar juga menambahkan perihal kabut ini. Bagi Hilmar, kabut bukanlah hal elemen asing pada sastra. Kabut adalah ranah ketidakjelasan, terbuka bagi tafsir dan berbagai kemungkinan. Kabut juga lekat dengan kemampuan dan ketidakmampuan melihat. Kabut juga metafora dari sejarah dan peristiwa yang tidak jelas.  

Bagi saya, buku ini tidak hanya sekadar hiburan (bagi yang suka), tetapi juga kontribusi penting untuk negara. Melalui sastra, Seno seperti ini mengajak kita menghadapi masa lalu bangsa yang kelam, luka batin yang belum sembuh dan tidak bisa dilupakan. Tujuannya, membantu proses penyembuhan dan tidak saling menyalahkan ... 

Komentar

Postingan Populer