Langsung ke konten utama

Unggulan

Aroma Karsa

Melihat buku Aroma Karsa (2018) karya Dewi Lestari begitu intimidatif. Bukunya tebal, membutuhkan komitmen untuk membacanya dan tentu uang yang cukup banyak untuk membelinya. Hehe. Apalagi Dee, panggilan akrab penulis, terkenal menulis dengan buku-buku yang bikin mikir seperti seri Supernova . Sebelum bahas Aroma Karsa , saya mau cerita kalau Dee adalah penulis pertama yang menginpirasi saya menulis fiksi. Gaya menulisnya saya tiru plek-plekan. Kadang beberapa kalimatnya dicatat supaya bisa dimasukkan ke dalam tulisan saya. Buku Filosofi Kopi (2006) menginsipirasi saya membuat blog. Namanya? Filosofi Kabut. Hahaha. Jadi, Dee ini adalah penulis yang berjasa sekali buat saya. Saya juga sangat suka buku Rectoverso (2008), bahkan kagum bagaimana seorang penulis seolah-olah bisa mewakili hati pembacanya. Dari semua seri Supernova, Petir (2004) adalah buku yang bisa membuat saya hanyut, ketawa, dan ingat ceritanya hingga sekarang! Ambisi seorang Raras Prayagung  Aroma Karsa bercerita tentan

Tempat Paling Liar di Muka Bumi

 

Ingat puisi, ingat kawan saya, Theoresia Rumthe. Saya kenal Theo, panggilan akrabnya, saat di Reading Lights Writer's Circle. Karya-karyanya itu sangat menggambarkan sosok Theo: manis dan puitis. Saya juga sering mengunjungi blognya yaitu Perempuan Sore. Bagi saya, puisi-puisinya sangat mudah dinikmati tanpa perlu mengerenyitkan dahi

Dari dulu, puisi-puisi Theo selalu menyuarakan napas yang sama: mencintai seseorang dengan berani, tanpa malu, tanpa ampun, dan liar. Di buku-nya, "Tempat Paling Liar di Muka Bumi", Theo menulis bersama kekasihnya yaitu Weslly Johannes.  Sebelum melihat karya fisiknya, saya suka melihat mereka bersahut-sahutan puisi di media sosial.

Kedua puisi mereka tidak luput dari keindahan Maluku, tempat tinggal mereka. Tidak banyak, tetapi beberapa kali ada unsur pulau, Yamdena, dan laut yang ada di puisinya. Terbayang enggak sih mencintai seseorang di tempat nan indah seperti itu? Puitis sekali pastinya.

Buku puisinya diilustrasikan oleh Lala Bohang yang mampu menggambarkan isi puisinya, seperti gambar di atas. Belum lagi kata-kata dari Wesley yang menurut saya singkat tapi ngena sekali. Dan, punggung. Ya, punggung. Tampaknya punggung bermakna sekali buat mereka karena ini berkali-kali muncul. 

Bagi saya, memeluk orang dari belakang itu menyentuh sekali artinya. Kita ingin melindungi mereka, memberi rasa nyaman, menyampaikan rindu, tidak melulu bersifat erotis. Namun semata-mata kita ingin menunjukkan kasih sayang.


Saya jarang sekali bisa menikmati puisi, apalagi yang penuh metafora sampai-sampai tidak mengerti. Saya juga tidak mengerti teknik-teknik membuat puisi. Bagi saya membaca puisi itu seperti melihat karya seni. Kalau kesannya sampai di hati, barulah karya tersebut bermakna buat saya.

Dan karya Theo dan Weslly inilah sampai di hati saya. Puisi-puisinya sangat mudah dinikmati. Selain itu, mereka bisa membuat pembacanya untuk mencintai seseorang dengan lepas dan bisa bermain-main di tempat liar, seperti matanya ... atau pungungnya.

Komentar

Postingan Populer