Langsung ke konten utama

Unggulan

Bukan Perawan Maria

  Membaca Bukan Perawan Maria karya Feby Indirani memang tidak sekaget saat saya membaca buku keduanya, Memburu Muhammad , waktu pertama kali. Tema kedua buku ini sama yaitu Islamisme magis. Feby selalu membuat cerita yang berakar dari tradisi, mitologi, keseharian hidup berislam yang lekat dalam hal-hal gaib dalam dunia kaum pemercaya.  Ada cerita-cerita yang cukup menohok, misalnya "Baby Ingin Masuk Islam". Karya ini bercerita tentang seekor babi bernama Baby yang menyatakan keinginannya menjadi muslim. Seorang kiai bernama Fikri menyatakan ini pada umat dan ditanggapi dengan shock. Ia terus memperjuangkan agar Baby bisa jadi muslim. Lucunya, ketika Baby akan diislamnkan, seorang umat ingin ikut kiai agar bisa menyicipi dagingnya. Atau cerpen "Tanda Bekas Sujud" yang bercerita tentang orang-orang terobsesi memiliki tanda hitam di dahinya pertanda srajin salat, perempuan yang kehilangan dirinya agar bisa memenuhi standar istri saleh di cerpen "Perempuan yang K

Tempat Paling Liar di Muka Bumi

 

Ingat puisi, ingat kawan saya, Theoresia Rumthe. Saya kenal Theo, panggilan akrabnya, saat di Reading Lights Writer's Circle. Karya-karyanya itu sangat menggambarkan sosok Theo: manis dan puitis. Saya juga sering mengunjungi blognya yaitu Perempuan Sore. Bagi saya, puisi-puisinya sangat mudah dinikmati tanpa perlu mengerenyitkan dahi

Dari dulu, puisi-puisi Theo selalu menyuarakan napas yang sama: mencintai seseorang dengan berani, tanpa malu, tanpa ampun, dan liar. Di buku-nya, "Tempat Paling Liar di Muka Bumi", Theo menulis bersama kekasihnya yaitu Weslly Johannes.  Sebelum melihat karya fisiknya, saya suka melihat mereka bersahut-sahutan puisi di media sosial.

Kedua puisi mereka tidak luput dari keindahan Maluku, tempat tinggal mereka. Tidak banyak, tetapi beberapa kali ada unsur pulau, Yamdena, dan laut yang ada di puisinya. Terbayang enggak sih mencintai seseorang di tempat nan indah seperti itu? Puitis sekali pastinya.

Buku puisinya diilustrasikan oleh Lala Bohang yang mampu menggambarkan isi puisinya, seperti gambar di atas. Belum lagi kata-kata dari Wesley yang menurut saya singkat tapi ngena sekali. Dan, punggung. Ya, punggung. Tampaknya punggung bermakna sekali buat mereka karena ini berkali-kali muncul. 

Bagi saya, memeluk orang dari belakang itu menyentuh sekali artinya. Kita ingin melindungi mereka, memberi rasa nyaman, menyampaikan rindu, tidak melulu bersifat erotis. Namun semata-mata kita ingin menunjukkan kasih sayang.


Saya jarang sekali bisa menikmati puisi, apalagi yang penuh metafora sampai-sampai tidak mengerti. Saya juga tidak mengerti teknik-teknik membuat puisi. Bagi saya membaca puisi itu seperti melihat karya seni. Kalau kesannya sampai di hati, barulah karya tersebut bermakna buat saya.

Dan karya Theo dan Weslly inilah sampai di hati saya. Puisi-puisinya sangat mudah dinikmati. Selain itu, mereka bisa membuat pembacanya untuk mencintai seseorang dengan lepas dan bisa bermain-main di tempat liar, seperti matanya ... atau pungungnya.

Komentar

Postingan Populer