Aib dan Nasib

aib dan nasib
Penerbit Marjin Kiri, 2020

Saya punya harapan besar pada buku "Aib dan Nasib" (2020) karya Minanto. Pasalnya buku ini Pemenang I Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019. Selain itu, saya melihat ulasannya baik di mana-mana. Saking penasaran, saya rela mantengin salah satu akun toko buku dan menunda pembelian buku-buku lainnya sebelum buku ini diunggah. Maksudnya biar ongkos kirimnya sekalian.*pelit

Buku ini bercerita tentang warga Desa Tegalurung. Warga desa yang biasanya dipersepsikan lebih selow, lebih kalem, dan lebih tentram dari orang kota ternyata memiliki konflik yang berujung pada aib. Konflik-konfliknya berasal dari masalah asmara, kemiskinan, media sosial, hingga politik elektorial tingkat tinggi.

Misalnya, salah satu tokoh bernama Mang Sota. Ia adalah seorang tukang becak yang istrinya meninggal karena melahirkan. Anak tersebut yang diberi nama Uripah memiliki keterbelakangan mental. Di tengah kemiskinan dan tidak ada pengalaman mengasuh anak, Mang Sota harus membesarkan anak ini. Untungnya ia dapat sedikit bantuan dari tetangganya. Meski dibantu, tetap saja keterbelakangan mental menuntun Uripah mengalami serangkaian kejadian yang tidak menyenangkan.

Contoh lainnya adalah seorang pelajar bernama Gulabia yang berpacaran dengan Kicong. Ia sering pulang dari sekolah menggunakan angkot dengan supir bernama Mang Kartono. Kebersamaan Gulabia dengan Kicong dan Kartono membawa ia kepada aib dan kehidupan yang tidak menyenangkan. 

Pendapat saya mengenai buku ini ...

Saat pertama kali baca, saya sudah terganggu nama-nama tokoh yang tidak familiar seperti Boled Bogeng, Bagong Badrudin, Nurumubin, Gulabia, Kicong, Pang Randu, Godong Gunda. Mungkin bagi sebagian orang, makin dibaca, nama-namanya makin terasa familiar. Tetapi buat saya, makin dibaca, makin terasa menyebalkan dibaca. Saya kurang tahu alasan Minanto membuat nama tokoh seperti ini, tapi nama yang aneh ini menganggu proses baca.

Cara penulisannya agak mirip dengan buku "Orang-Orang Oetimu", yaitu cerita disusun dalam fragmen-fragmen episodik dengan alur maju mundur. Jadi, misalnya buku dimulai dengan cerita tentang Mang Sota membunuh cucunya, berikutnya kisah malam pertama Gulabia dan Kartono, lalu kehidupan awal Mang Sota saat istrinya masih hidup, kemudian cerita awal Gulabia masih sekolah dan bertemu dengan Kicong, dst.

Bedanya, episodenya sangat cepat sekali berpindah. Mungkin penulis menceritakan kisah penulis dalam berapa paragraf, lalu sudah berubah ke tokoh lainnya. Buat saya, ini melelahkan. Saya lebih bisa menikmati dan meresapi cerita "Orang-Orang Oetimu" yang memberi banyak ruang sebelum berganti cerita tokoh lainnya. Baca buku ini bikin saya mengeluh bakal gini terus nih sampai akhir?

Selain itu cara berceritanya juga biasa saja. Memang mudah dicerna, tapi tidak membuat saya tertarik. Akhirnya saya banyak melakukan skimming cuman untuk dapat ide ceritanya saja.

Tentu buku ini ada kelebihannya. Satu hal yang patut diapresiasi adalah kemampuan Minanto untuk menyatukan fragmen-fragmen kisah tokoh yang cukup banyak tersebut. Mungkin itulah alasan ia menang sayembara?

Kesimpulannya, tanpa mengurangi penghargaan saya terhadap penulis (karena tahu nulis buku itu susah), saya kurang suka buku ini dan tidak selesai membacanya. Buku ini terlalu "sulit" dibaca buat saya. Buat apa menghabiskan waktu untuk baca buku yang susah payah untuk dinikmati?

Komentar

Postingan Populer